Apa itu metrik evaluasi model?
Metrik evaluasi model adalah angka yang menilai seberapa cocok prediksi model dengan jawaban sebenarnya pada data yang tidak dipakai saat training. Untuk klasifikasi, sebagian besar metrik berasal dari confusion matrix: akurasi, precision, recall, F1, dan kurva ROC beserta luas area di bawahnya (AUC). Untuk regresi, yang umum dipakai adalah mean squared error (MSE), mean absolute error (MAE), dan R².
Metrik menentukan model mana yang akhirnya dirilis. Deteksi penipuan, skrining medis, dan penyaring spam punya kasus positif yang langka dan biaya error yang tidak setara, jadi akurasi saja menyembunyikan kegagalan yang paling berdampak. Sistem peringkat dan rekomendasi mementingkan urutan, yang diukur oleh AUC. Tim peramalan memilih antara MSE dan MAE, tergantung apakah beberapa meleset besar lebih buruk daripada banyak meleset kecil. Metrik yang sama juga dipakai untuk menetapkan decision threshold, membandingkan model kandidat, dan memicu early stopping saat training.
Ide utama
- Akurasi menyesatkan pada data yang timpang; selalu bandingkan dengan baseline kelas mayoritas.
- Confusion matrix (TP, FP, TN, FN) adalah sumber semua metrik klasifikasi.
- Precision menanyakan berapa kasus yang ditandai itu benar; recall menanyakan berapa kasus benar yang berhasil ditandai.
- Menggeser decision threshold menukar precision dengan recall, dan F1 merangkum keseimbangannya.
- ROC AUC adalah probabilitas sebuah positif acak mendapat peringkat lebih tinggi daripada sebuah negatif acak.
- MSE menghukum error besar lebih berat daripada MAE, dan R² membandingkan model dengan memprediksi rata-rata.
Ulasan singkat tentang topik ini
Pertanyaan umum
Kapan sebaiknya memakai PR AUC, bukan ROC AUC?
Pakai kurva precision-recall ketika positif langka dan yang kamu pedulikan adalah alarm palsu, seperti pada deteksi penipuan atau penyakit langka. ROC AUC bisa tetap tinggi di kondisi itu karena banyaknya negatif membuat false positive rate tetap kecil. Classifier acak punya ROC AUC 0,5, tetapi PR AUC-nya sama dengan tingkat positif, jadi PR AUC harus dibaca terhadap baseline itu.
Apa bedanya macro averaging dan micro averaging?
Untuk masalah multi-class, macro averaging menghitung metrik seperti F1 untuk tiap kelas, lalu mengambil rata-rata biasa, sehingga kelas langka sama bobotnya dengan kelas umum. Micro averaging menggabungkan semua hitungan TP, FP, dan FN lebih dulu, sehingga kelas yang sering muncul lebih dominan. Pada klasifikasi multi-class satu label, F1 micro-averaged sama dengan akurasi.
Berapa skor AUC yang bagus?
Tidak ada batas universal, karena bergantung pada sulitnya tugas dan skor alternatifnya. 0,5 berarti setara tebakan acak dan 1,0 berarti urutan sempurna. Bandingkan AUC dengan baseline sederhana dan model yang sudah ada pada test set yang sama, bukan dengan angka tetap.
Sebaiknya melaporkan RMSE atau MSE?
RMSE adalah akar kuadrat dari MSE, jadi satuannya sama dengan target dan lebih mudah dibaca. Keduanya memberi peringkat model yang persis sama. MSE lebih umum sebagai training loss karena gradient-nya lebih sederhana.
Penjelasan terkait
- Class Imbalance & Resampling · SMOTE, class weight, dan metrik di luar akurasi
- Training, Validation, dan Test Set · Membagi data untuk mengukur generalization dan menghindari overfitting
- Cross-Validation · Evaluasi dengan k-fold, stratified, dan leave-one-out
- Klasifikasi vs Regresi · Dua jenis prediksi dan kapan memakai masing-masing
- Loss Function · Cara network mengukur kesalahannya
- Overfitting dan Underfitting · Bias-variance tradeoff dan generalisasi
Referensi
- Fawcett (2006), "An introduction to ROC analysis", Pattern Recognition Letters
- Davis & Goadrich (2006), "The Relationship Between Precision-Recall and ROC Curves", ICML
- Saito & Rehmsmeier (2015), "The Precision-Recall Plot Is More Informative than the ROC Plot When Evaluating Binary Classifiers on Imbalanced Datasets", PLoS ONE
- James, Witten, Hastie & Tibshirani, "An Introduction to Statistical Learning"
Terakhir diperbarui