Apa itu RLHF (reinforcement learning from human feedback)?
Reinforcement learning from human feedback (RLHF) adalah cara melakukan fine-tuning pada model dengan penilaian manusia atas output-nya, bukan dengan jawaban benar yang ditulis tangan. Orang membandingkan pasangan respons, reward model belajar memprediksi mana yang lebih mereka sukai, lalu model bahasa dilatih dengan reinforcement learning agar menghasilkan respons yang mendapat skor tinggi dari reward model.
RLHF adalah langkah yang mengubah model bahasa besar hasil pretraining menjadi asisten yang bisa dipakai. InstructGPT dari OpenAI (2022) memakainya agar GPT-3 mengikuti instruksi, dan resep yang sama dipakai untuk ChatGPT. Metode ini diterapkan ketika tujuannya mudah dinilai tetapi sulit dituliskan sebagai loss: kegunaan jawaban, nada, penolakan permintaan berbahaya, dan kualitas ringkasan. Direct preference optimization (DPO) adalah varian yang lebih sederhana dan kini dipakai banyak model terbuka.
Ide utama
- RLHF melakukan fine-tuning model ke arah output yang disukai orang, memakai perbandingan alih-alih jawaban tertulis.
- Pipeline standarnya: supervised fine-tuning, lalu reward model, lalu reinforcement learning dengan PPO.
- Reward model yang dilatih pada pasangan hanya mempelajari selisih reward, lewat loss −log σ(r_chosen − r_rejected).
- Penalty KL terhadap reference model menjaga policy agar tidak hanyut ke teks yang mengakali reward model.
- Reward hacking terjadi ketika reward yang dipelajari naik, tetapi penilaian manusia atas output-nya tidak ikut naik.
- DPO berlatih langsung pada pasangan preferensi dan tidak butuh reward model terpisah atau putaran RL.
Pertanyaan umum
Apa bedanya RLHF dan supervised fine-tuning?
Supervised fine-tuning berlatih pada demonstrasi: model menyalin jawaban tertulis token demi token. RLHF berlatih pada penilaian atas output model sendiri, sehingga bisa memperbaiki perilaku yang mudah dikenali orang tetapi sulit dituliskan. Sebagian besar pipeline menjalankan SFT lebih dulu, lalu RLHF.
Kenapa disebut reinforcement learning?
Model diperlakukan sebagai policy. Ia menghasilkan satu respons utuh, menerima satu reward berupa skalar, lalu diperbarui agar respons dengan reward tinggi lebih mungkin muncul. Tidak ada token target yang benar di tiap posisi, hanya satu skor untuk seluruh jawaban, dan situasi seperti inilah yang menjadi sasaran reinforcement learning.
Dari mana asal RLHF?
Christiano dkk. (2017) melatih agent di gim Atari dan robotika simulasi dari perbandingan manusia atas klip video pendek. Dengan sekitar 900 perbandingan, robot simulasi belajar melakukan salto ke belakang. Metode ini kemudian diterapkan pada peringkasan teks, lalu pada kepatuhan terhadap instruksi di InstructGPT.
Apakah RLHF masih dipakai, atau sudah digantikan DPO?
Keduanya dipakai. DPO lebih murah dan lebih sederhana dijalankan, sehingga banyak model open-weight memakainya atau salah satu variannya. RLHF berbasis PPO masih dipakai ketika reward model terpisah dibutuhkan, misalnya untuk memberi skor sampel baru selama training. Banyak pipeline juga mengganti sebagian label manusia dengan umpan balik buatan AI (RLAIF).
Penjelasan terkait
- Decoder-Only Transformer · Arsitektur di balik GPT dan LLM modern
- Language Modeling · Memprediksi token berikutnya, tujuan yang menggerakkan GPT, BERT, dan NLP modern
- KL Divergence · Mengukur seberapa berbeda dua distribusi
- Softmax, Logit, dan Temperature · Mengubah skor mentah menjadi probabilitas
- Loss Function · Cara network mengukur kesalahannya
- LoRA dan Parameter-Efficient Fine-Tuning · Mengadaptasi model besar dengan melatih matriks low-rank kecil, bukan semua weight
Referensi
- Ouyang et al. (2022), "Training language models to follow instructions with human feedback" (InstructGPT)
- Christiano et al. (2017), "Deep reinforcement learning from human preferences"
- Rafailov et al. (2023), "Direct Preference Optimization: Your Language Model is Secretly a Reward Model"
- Schulman et al. (2017), "Proximal Policy Optimization Algorithms"
Terakhir diperbarui