Apa itu dimensionality reduction?
Dimensionality reduction adalah proses menyatakan data yang punya banyak feature dengan jauh lebih sedikit feature, sambil mempertahankan strukturnya sebanyak mungkin. Metode linear seperti principal component analysis (PCA) memproyeksikan data ke beberapa sumbu baru. Metode non-linear seperti t-SNE dan UMAP menempatkan titik dalam dua atau tiga dimensi sehingga titik yang bertetangga tetap bertetangga.
Teknik ini dipakai untuk mempercepat dan meregularisasi model, memampatkan data, membuang noise, dan terutama memvisualisasikan data berdimensi tinggi. Ahli biologi memetakan ekspresi gen single-cell dengan t-SNE atau UMAP, ML engineer memeriksa embedding kata dan gambar dengan cara yang sama, dan PCA adalah langkah preprocessing standar sebelum clustering atau regresi pada tabel yang lebar. Mengurangi dimensi juga meredakan curse of dimensionality: jarak dan estimasi kepadatan makin tidak bisa diandalkan saat feature bertambah.
Ide utama
- Dimensionality reduction memetakan data dengan banyak feature ke lebih sedikit feature sambil mempertahankan strukturnya sebanyak mungkin.
- Pada dimensi tinggi, data menjadi renggang dan jarak kehilangan kontras, dan ini merugikan banyak model.
- PCA memproyeksikan data ke arah-arah tegak lurus dengan variance maksimum, yaitu eigenvector dari matriks covariance.
- Jumlah komponen bisa dipilih dari scree plot, target variance, atau cross-validation.
- t-SNE menjaga tetangga lokal untuk visualisasi 2D, tetapi mendistorsi jarak global.
- PCA bersifat linear, cepat, dan bisa dipakai ulang pada data baru, sedangkan t-SNE terutama alat visualisasi.
Pertanyaan umum
Apa bedanya dimensionality reduction dan feature selection?
Feature selection menyimpan sebagian kolom asli tanpa mengubahnya. Metode dimensionality reduction seperti PCA membangun feature baru yang mencampur semua feature asli. Feature selection membuat feature tetap mudah ditafsirkan, sedangkan dimensionality reduction bisa memuat lebih banyak informasi dalam lebih sedikit angka.
PCA termasuk supervised atau unsupervised?
PCA bersifat unsupervised: ia mengabaikan label dan hanya melihat sebaran input. Arah dengan variance terbesar belum tentu arah yang memisahkan kelas. Linear discriminant analysis (LDA) adalah padanan supervised-nya, yang memilih arah yang paling baik memisahkan kelas yang sudah diketahui.
Kapan PCA gagal?
PCA hanya bisa menemukan subspace datar, jadi kesulitan saat data terletak pada permukaan melengkung, seperti contoh klasik swiss roll. PCA juga bisa membuang arah ber-variance rendah yang ternyata memprediksi target. Kernel PCA, autoencoder, dan metode manifold seperti UMAP lebih baik menangani struktur melengkung.
Bisakah t-SNE atau UMAP dipakai sebagai feature input model?
UMAP bisa mentransformasi titik baru dan kadang dipakai seperti itu, walaupun hasilnya berbeda antar-run. t-SNE standar tidak bisa meng-embed titik baru tanpa menjalankan ulang seluruh dataset, jadi hampir hanya dipakai untuk visualisasi. Untuk input model, PCA atau embedding hasil pembelajaran adalah pilihan yang lebih aman.
Penjelasan terkait
- Curse of Dimensionality · Kenapa ruang berdimensi tinggi merusak intuisi dan algoritma
- Singular Value Decomposition · Uraikan matriks apa pun menjadi rotasi, skala, dan rotasi: alat serbaguna di aljabar linear
- Eigenvalue dan Eigenvector · Cara matriks mengubah ruang: eigenvector, eigenvalue, dan dekomposisi
- Feature Extraction · Cara network menemukan pola dalam data mentah
- Autoencoder & VAE · Dari kompresi ke generasi: autoencoder standar dan variational
- K-Means Clustering · Pengelompokan unsupervised berdasarkan jarak ke centroid
Referensi
- van der Maaten & Hinton (2008), "Visualizing Data using t-SNE", JMLR
- McInnes, Healy & Melville (2018), "UMAP: Uniform Manifold Approximation and Projection for Dimension Reduction"
- James, Witten, Hastie & Tibshirani, "An Introduction to Statistical Learning" (ISLR), chapter 12
Terakhir diperbarui